Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cermis

HER LADYSHIP'S SCHEME

Gambar
  CHAPTER 020. UNINVITED GUEST Author : 鬼月幽靈 (Guî Yuè Yōulíng) Translator : Helena Nasution (WhiteSky) Source: MangaToon App, Manhua with the same title as this novel (Illustration of Qin Ruoliu) *********** Liang Jiang looked at Banxia who was deep in thought, and he wondered that she was probably unhappy. He immediately said: "It's all in the past. Why are you mentioning it? Little sister, don't feel sad. Although our mother (Madam Jin) suffered some grievances, she came in and saved the entire Yao family, and she was very good to us." Only when Liang Jiang said this that Banxia came back to her senses. When she heard her second brother's words, the corner of her mouth twitched violently. What kind of brains do these brothers of hers have? They have no sense at all, and they can't see clearly Madam Jin's trickery. She opened her mouth, wanting to say something, but with so many ears listening and eyes staring from...

CERBUNG: PINTU SENJA

Gambar
Pintu Senja (9th Sequel) written by Helena Nasution Image source: google.com "Oh, Ya Tuhan, di mana anak-anak?" Nyonya Hermawan mendengus kesal ketika tak ada satu orang pun yang menyambutnya di dalam rumah. Hatinya gelisah ketika memikirkan apa yang sedang terjadi dengan anak-anaknya. "Denim?" Teriaknya sembari kaki-kaki jenjangnya yang mulai keriput menelusuri barisan keramik persegi berwarna merah hati dengan ukiran bunga Hydrangea. Bunga Hydrangea adalah jenis tanaman langka yang hanya dapat ditemukan di Asia, khususnya di Negara Filipina. "Elly? Di mana kalian?" Kakinya semakin cepat menuju kamar Dea, Kim dan Eby. "Oh ya ampun, di mana kalian semua?" "Ada apa, Ma?" Tanya Tuan Hermawan ketika menemukan istrinya mondar-mandir dengan wajah gelisah di koridor kamar. "Mengapa tak ada satu orang pun di dalam rumah?" Tanya Nyonya Hermawan dengan nada marah bercampur cemas. "Tenang, Ma, Denim akan t...

CERBUNG: PINTU SENJA

Gambar
Pintu Senja (8th Sequel) written by Helena Nasution Image source: google.com Pria itu berdiri di atas gundukan pasir kuarsa berwarna putih jernih dengan setelan jas dan celana panjang berwarna perak. Gundukan pasir itu tampak berkilauan karena tertimpa butir-butir foton sinar mentari. Pria itu sama sekali tidak bergerak, seolah kedua kakinya telah menyatu dengan tanah, bahkan angin yang berhembus kuat pun tak mampu untuk menggerakkan helaian rambutnya. Aku berlari menghampiri pria aneh itu, tapi entah mengapa langkahku terhenti oleh sesuatu yang tak terlihat, seolah ada dinding penghalang tak kasat mata yang mengepung hamparan lautan di hadapanku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa menghampiri pria itu, namun dinding di hadapanku sama sekali tak berkutik. Dinding itu telah menolakku. Usahaku bahkan bernilai nol, karena dinding ajaib tak terlihat itu sedikit pun tak goyah meski telah didorong berkali-kali. Sial ! Aku mengumpat dalam hati. Aku memutuskan untuk berla...

CERBUNG: PINTU SENJA

Gambar
Pintu Senja (7th Sequel) Written by Helena Nasution Image source: google.com Sepertinya melongo dan memasang muka idiot sudah menjadi hobi baru bagiku saat ini. Segalanya terasa begitu aneh dan tak normal. Beberapa saat yang lalu aku baru saja melihat sebuah lantai yang berotasi di tempat sebesar 271,5º. Lantai itu adalah tempat kami berpijak sebelumnya, di mana banyak lemari kaca berdiri gagah dengan segala pernak-pernik batu kristal antik bin unik yang memenuhinya. Lalu dua buah lemari kaca yang nampak begitu berat bergeser ke kiri dan ke kanan, menampakkan sebuah ukiran berbentuk segi empat seluas satu meter persegi pada permukaan lantai. Ukiran segi empat itu ternyata hanya sebuah kamuflase pada lantai yang dapat terbuka secara otomatis ketika Rigel menekan sesuatu pada pergelangan tangannya yang bagiku, terlihat seperti sebuah jam tangan biasa. Ketika ukiran itu terbuka, sebuah lubang yang besarnya sama dengan penutup berbentuk ukiran, menganga seperti mulu...

CERBUNG: PINTU SENJA

Gambar
Pintu Senja (6th Sequel) Written by   Helena Nasution   Image source: google.com Rigel membawaku ke sebuah koridor panjang dengan penerangan seadanya. Cahaya lampu bergerak perlahan-lahan dengan bentuk sirkular dari arah mercusuar   di pantai sebelah Utara. Tn. Pro memimpin perjalanan kami dalam jarak sekitar satu meter di depan. Sudah 10 menit sejak kami tiba di sebuah bangunan yang sampai sekarang aku masih belum tahu ini tempat apa. Aku tertidur beberapa saat yang lalu di dalam mobil yang membawa kami bertiga dari pantai tempat aku terdampar sebelumnya, lalu tiba-tiba sebuah tangan mengguncang tubuhku dengan sedikit keras, yang kemudian aku menyadari bahwa itu adalah tangan Rigel yang tengah berusaha membangunkanku. Aku sangat berharap ketika aku terbangun dari tidurku, aku akan menemukan kasurku yang empuk dan ruangan kamarku yang beraroma mint dan sedikit machiatta. Aku menyukai kedua aroma itu. Tapi sepertinya itu semua tak kan terjadi...

CERBUNG : PINTU SENJA

Gambar
PINTU SENJA (5th Sequel) written by Helena Nasution  Image Source : google.com Aku menemukan diriku terbaring di atas hamparan pasir pantai berwarna keemasan. Butir-butir pasir nan kasar menempel pada kaki, tangan, dan wajahku. Seonggok bintang merah tampak mengapung di seberang lautan. Tampaknya sebentar lagi benda itu akan sepenuhnya menghilang. Aku yakin itu bukan matahari, karena warnanya lebih mirip bintang dari golongan raksasa merah, bukan berwarna kuning atau oranye seperti yang sering terlihat dari bumi. Tapi apa pun itu, sekarang yang terpenting adalah mencari tahu lokasi keberadaanku. Aku berusaha bangkit dan menggerakkan tubuhku, rasanya penat sekali. Aku bahkan tak bisa merasakan kakiku sendiri, yang semakin lama semakin terasa kebas. Aku melongo ke kiri dan ke kanan. Aku tidak menemukan apa pun kecuali hamparan lautan yang kini mulai terlihat gelap, yang tampak hanya siluet beberapa pepohonan dari kejauhan dan bayangan rumah-rumah kayu kecil yan...